Posts

Kereta Tidur

Image
Kehidupan bagiku adalah kereta api dari stasiun Kehampaan, menuju stasiun Kehampaan. Tetapi kereta tersebut hanya berjalan satu arah. Kita adalah penumpang yang naik tanpa barang bawaan, dan turun pun tak membawa apa-apa. Bukan kita yang menentukan kursi tempat duduk. Di sebelah jendela atau pinggir lorong, itu sudah ditentukan dari awal. Tapi kita bisa berpindah. Pasti. Ada yang turun terlebih dahulu, ada yang baru turun setelah kita sampai. Yang jelas ada dua kemungkinan utama -- apakah kau turun dengan keyakinan, atau kau takut meninggalkan kereta dengan telanjang? Mungkin ada yang bertemu dengan teman berbicara yang baik sepanjang perjalanan, hingga perpisahan adalah berat yang harus dipikul dengan lelah. Ada yang terus mencari gerbong lokomotif pada rangkaian yang tak terhingga. Tapi, ada juga yang selalu waspada bersiap untuk turun pada stasiun yang datang tanpa pengumuman. Yang penting, entah kereta yang kita naiki sering berhenti tak jelas, AC dan lamp...

Spiral

"The path isn't straight line; it's always been spiral. You continuously come back to things you thought you understood, then you see much deeper truths." 2017

Petikan Gitar di Hutan Norwegia

-- Norwegian Wood, Haruki Murakami Namaku sudah kau sebut berulang kali dalam surat yang tak kunjung kau kirim. Aku seperti penumpang yang tertinggal pada stasiun terakhir! dan tubuhku kadang bertanya: mungkinkah rindu bisa kabur dari jantung ini? menjadi entah apapun itu --perahu kertas yang mengalir pada gemercik sungai Kamogawa atau awan di kaki gunung yang mengantarkan kecupan untuk gigilmu di pagi hari. 2017

Tentang Kamar-Kamar yang Tertutup

Image
. . . Bayangkan ada sekumpulan orang yang sejak lahir tinggal di suatu kamar. Kamar tersebut gelap, tertutup rapat dari dunia luar, tidak memiliki jendela atau pintu, kecuali suatu celah kecil yang membiaskan cahaya matahari ke dalam. Setiap harinya, ada sekelompok parade yang berjalan melewati bagian luar tersebut. Hal ini membuat timbulnya siluet di dalam dinding kamar yang menghadap ke celah kecil tersebut -- seperti petunjukkan bayangan. Orang-orang di dalam kamar tersebut hanya dapat melihat siluet tersebut, berjalan setiap hari, dan kemudian -- setelah berbincang dengan masing-masing -- mulai memberi 'bayangan' tersebut nama. "Itu adalah bunga!" "Yang ini namanya terompet!" "Oh, kalau itu topi!" Mereka tidak sadar bahwa mereka hanya menamai 'bayangan'. Bukan benda aslinya. Mereka hanya menamai benda-benda yang sebenarnya tidak dapat mereka lihat. Karena, untuk dapat melihatnya, mereka harus berhenti menatap bayangan da...

Percakapan dengan Benda-Benda Langit: Kubah

:Cerita Pertemuan Langit dan Kubah Bukankah langit adalah anyaman? Gulungan benang yang ditenun waktu dan ruang. Di pantai, langit menjelma gaun jingga. Aku bertemu dengannya waktu kapalku karam . "Inilah langitku, yang kutunggu!" Tapi saat senja, kau garis lurus yang membisu. Aku tunggu malam menyingkap pakaianmu. Esok pagi, kau adalah hijau beludru. Ruang berkata, menggenggam tangan waktu: Langit, inilah kubah. Temui dia di lembah rendah -- di mana suara-suara bergaung lemah. Dan kubah menjelma langit. Pintu terbuka dari segala penjuru. Dari dalamnya, merpati membuka jeda. Titik-titik mengeja namamu. Aku adalah kau, dan kau adalah aku. 2017

Percakapan dengan Benda-Benda Langit: Awan

Awan menyapa pukul lima lebih duapuluh --selamat bersiap berbuka puasa, katanya beliau datang dengan baju ungu kelabu aku membalas, terimakasih ini ada kurma satu, mau? Katanya, diberikan saja pada tetangga didepanmu menurutku, dia lebih butuh Aku bingung karena, didepan rumahku tidak ada siapa-siapa Adzan berkumandang dan sekarang awan sudah pergi. Atau, dia ada dibalik keramaian langit? Hitam itu sehitam kurma yang aku makan. selesai berbuka, biji kurma kutaruh di atas tanah depan rumah Aku berharap, supaya awan percaya bahwa didepan rumahku tidak ada siapa-siapa (Dibalik jendela depan, gorden pucat itu bergeser sedikit) 2017

Surat-Surat yang Kularung

Suatu ketika, hujan bertemu tanah. Petang itu dingin dan bulan sudah terbit dari barat. Aku ingin pulang saja menembus deras air yang turun di kota ini. Tapi aku ingin tetap singgah dan membicarakan apapun selain tentang hal-hal yang biasa saja. Mungkin tentang benda-benda langit, mimpi-mimpi, atau warna pastel di senja yang terlalu sejenak singgah sore itu. Aku adalah keberanian yang ternyata menakutkan, aku tidak mampu berkata-kata. Langkah itu berubah menjadi suatu diam dalam ruang. Warna warna sejarah menutup mataku. Sementara gelagat angin datang seperti tamu yang tak diundang. Engkau mengetuk pintu yang membuka sedikit, dan hembusannya membuka terlalu lebar. Pernahkah kau merasa seperti ombak yang membentur karang? Aku sudah berkali-kali mengecup batu yang basah. Langit bersatu dengan samudera dalam jubah hitam. Ada cahaya mercusuar menunggu di sana. Tapi, aku mengarahkan kapalku ke arah sebaliknya. Ini adalah surat yang ingin kujadikan kapal kertas, berlalu dalam alir hujan ...