Posts

Itulah Sebabnya Padamu Aku Kembali

Image
Oleh Hasan Aspahani Seperti jemari hujan memainkan bunyi di dedaunanmu, mendentingkan kesunyian yang terlalu kental kukenali. Aku pernah punya keberanian yang ternyata menakutkan. Tanpamu, aku pengecut, sesat sudah pada langkah pertama. Aku ingin menuliskan kalimat apa saja,  dengan kata seru "Oh.." pada awalnya.  Dan "Ah.." pada akhirnya. Aku bayangkan itu ada dalam lirih lirik,  yang dilagukan penyanyi - yang seperti aku - tak pernah pandai menari. Adapun lagu itu - setelah takzim kau simak - berarti: meninggalkan engkau, itu artinya aku meninggalkan diriku sendiri. Itulah sebabnya hanya padamu aku kembali. 25.09.2012 Itulah sebabnya hanya padamu aku kembali.

Perjalanan Wijen-Wijen

Image
Kami sama beradu sumpit dalam satu mangkok putih. di dalam lidah yang saling menebas putus kalimat masing-masing. "Siapa yang suruh masakan Jepang?" Cumi-cumi berwijen pun melayang ke panci kaldu didih. Karena aku kepingin sumpal bibirmu itu dengan sepotong manisan mangga berlumer gula merah sampai habis kecut disitu, sampai kering bibirmu. Tapi kau sudah kenyang huruf dahulu, dan menu-menu sudah habis kau khatamkan hingga pangkal lidah kau pahitkan. Sampai puding penutup tiba kau tak juga sentuh cawan dan mangkok putih itu dan gelas kaca itu tentu masih bergeming sendirian dengan bayangan dirimu terpantul-pantul kelu. tapi tetap kau bayar segala tetek-bengek (dan cumi wijen favoritku tadi) dengan segumpal mata dan selembar bibir lewat kasir dekat pintu menuju malam-pagi hingga kita tahu hakikat sebuah perjalanan dari mulut ke perut mimpi yang takkan habis bintangnya yang takkan habis kerlapnya yang takkan pernah habis wijennya, kasih! 2013

"Are We The Result Of What We Learn?"

Image
We learn in the past, but we are not the result of that. We suffered in the past, loved in the past, cried and laughed in the past, but that's of no use to the present. The present has its challenges, it's good and bad side. We can neither blame nor be grateful to the past for what is happening now. Each new experience of love has nothing whatsoever to do with past experiences. It's always new . 2013

Merah

14 April 2013, Curug Bintang-bintang menikam wajah kami. Dalam sunyi yang memeluk indera-indera, malam patah menjadi serpihan tulang putih. Waspada adalah bayonet yang kami genggam-- kami menebas-nebas langit pucat susu. Ketika roda waktu berjalan, tangan kami terhimpit remuk. Tenda-tenda rubuh, rata seperti rambut yang rebah. Ketika lebah kuning-hitam menyapa lewat adzan subuh, kami menghela napas untuk pertama kali. Kami sadar alam sudah.... ah, sudahlah. Batin kami menenangkan diri. 2013

Hitam

15 April 2013, Curug Setelah pendakian terakhir ini, aku berjanji akan melihat mata langit. *** Tapi kita menunduk dengan mata tertutup. Licin adalah lidah yang keluar dari mulut-mulut kami -- di langit-langit terowongan petir, gerimis berdansa sambil bernyanyi. Mata kami memutih bagai susu termurni. Dan bulan-bulan berdesis memanggil, memanggul badan yang sakit. Sungguh jurang adalah tempat yang ingin kami temui. --dalam mimpi-mimpi Mimpi yang tersumbat di ujung mata yang awas, tangan yang mencengkeram pisau-pisau. Pisau kuning berbekas darah sapi, siap menikam jantung sanca putih. Ular-ular yang melilit kaki kami, biarkan kami sekali mendaki. 2013

Soneta ke XVII

Image
oleh Pablo Neruda Aku tidak mencintaimu seperti jika kau berupa mawar -- atau ratnacempaka atau panah-panah mekar yang api letuskan. Aku mencintaimu seperti satu zat gelap yang patut dicinta di dalam rahasia-rahasia, di antara jiwa dan bayangan. Aku mencintaimu seperti tanaman yang tak mekar tetapi membungkus cahaya dari bunga tersembunyi: wujud cita dari cintamu serupa harum yang kekar tumbuh dari tanah, hidup dalam gelap tubuh ini Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana, atau kapan, atau darimana. Aku mencintaimu terang-terangan. Tanpa kerumitan atau kesombongan. Maka aku mencintaimu karena aku mengerti tak ada jalan lain, Sayang. daripada ini: saat aku tiada, begitu juga kau begitu dekat hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku begitu dekat hingga matamu menutup saat aku jatuh tertidur. Soneto XVII o te amo como si fueras rosa de sal, topacio o flecha de claveles que propagan el fuego: te amo como se aman ciertas cosas...

Rosa

Pada malam ke-sepuluh, lilin menyala di ruang itu. Sunyi terperam di meja makan. Gelap berpendar di piring-piring Kolase rosa menjelma  puzzle  sederhana. Hening menggumpal dalam mulutmu, Lalita. "Bicaralah." Hujan berteriak di luar jendela. Katamu, diamlah. Pagi akan mencicit. Matamu dan matanya berduel. Mereka berpandangan, saling mencari lubang tembus. Akhirnya kau menemukan celah yang bagus. Kau menyusun petal merah itu dan menjelma lukisan darah seharum rosa. "Diamlah." Kata lanskap merah di meja itu. Kau tak sadar setelah menyusun serpihan derita itu, matamu juga tersusun sedemikian merahnya juga. Kau bertanya, "Mawar siapa itu?" Lilin berbisik. "Mawar nya. " Darah itu tertawa sekeras-kerasnya. 2013