Posts

Otokritik

Kedua kutub itu berpecahan di angkasa, mencuri detik-detik yang hilang pada penjuru langit. Semua orang beranggapan bahwa diri mereka adalah yang paling benar, paling baik di antara segalanya. Bahwa kesombongan fana yang terlihat pada makhluk yang bernama manusia, sudah jelas terpatri dalam benang paling halus sekalipun. Pasti ada getar yang timbul. Ada nada sumbang yang muncul. Sudah tidak ayal lagi.

Membiasakan Hal yang Benar, Bukan Membenarkan Hal yang Biasa

Ada seorang insinyur yang sedang memperbaiki sebuah mobil untuk dinaiki. Mungkin agak kesulitan karena dikerjakan dengan seorang diri. Tapi katanya, mobil itu ingin menjadi desain yang paling baru. Jadi masih ada beberapa kelemahan di sana-sini. Ketika rancangan tersebut hampir selesai, sang insinyur menelpon dosennya untuk minta tolong. Karena menurutnya ada hal penting yang hanya bisa dosennya lakukan untuk memperbaiki mobil itu. Pagi itu insinyur dan keluarga baru ingin berjalan keluar ketika sang dosen datang. Sang dosen bilang. “Wah, kok bisa seperti ini?” Sambil marah, sang dosen mempreteli desain baru mobil sang insinyur, dengan keluarganya masih berada di dalam mobil. Insinyur pun bingung. Dia sadar bahwa mobilnya masih banyak kekurangan. Tetapi kenapa malah tidak ada yang diperbaiki? Memang sebelumnya sang insinyur belum berbicara apa-apa tentang rancangan mobil baru tersebut. Tetapi setelah lulus pun, dosen tersebut memang tak pernah menanyai setiap projek yg dirinya...

Aku Akan Memanggilmu Mara.

Dirimu adalah personifikasi dari perasaan yang tak bisa kuungkapkan hakikatnya. Sebuah vibrasi dari medan emosi, penjelmaan keheningan yang memaksa hatiku untuk bertekuk lutut -- menerima takdir dengan pasrah dan rela. Mungkin kenyataan di mana kau adalah implikasi dari kehadiran seseorang dalam ruangwaktu-ku, tidak bisa aku tolak sepenuhnya. Sebuah firasat dengan gejala memabukkan, menghentikan degup jantung ini kala matanya menembus jendela jiwa. Aku tidak bisa menuliskan apapun tentang cinta, karena dirinya adalah cinta. Karena tubuh ini terlalu lampau, terlalu fana untuk menyerah terhadap perang yang berkecamuk dibalik topeng ketidakpedulian. Sementara batin ini hanya mampu sekadar menulis kata-kata, tak berbicara. Aku akan memanggilmu Mara, sebuah rasa yang tersembunyi di dalam ribuan lipatan. Apel yang jatuh ke tanah tanpa suara. Anak panah yang terhempas tanpa arah. Denting musik tanpa nada. Lukisan tak berwarna. Entah kapan aku akan memanggilnya. 2016

Tanpa Kata

Image
Persepsi yang ditangkap oleh indera manusia berasal dari berbagai sumber, entah itu berupa rasa, imaji, suara, atau getar. Mungkin salah satu dominasi yang terjadi antara sumber-sumber tersebut dipegang oleh imaji, karena persepsi yang dapat diciptakan dari sumber tersebut tak terhingga jumlahnya.  Imaji yang diterima oleh mata kita sebenarnya adalah sekadar proyeksi cahaya yang dipantulkan oleh benda tersebut. Tidak nyata, dalam beberapa hal khusus. Hal ini mungkin agak berbeda dengan sumber persepsi lain, tetapi inilah yang membuat imaji menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. Dari seberkas pantulan cahaya, seorang penulis bisa terinspirasi. Sebuah karya bisa diciptakan dari tangan pelukis. Ilmu bisa kembali diestafet kepada penerus generasi. Tapi, dari cahaya itu juga, sebuah pemberontakan bisa meletus. Keinginan berbuat buruk menyala. Tetapi, cahaya tidak pernah salah. Persepsi yang disalahgunakan. Manusia-lah yang mempunyai kendali untuk menciptakan persepsi....

Memoar

Di jembatan itu, aku memilih ragu. Bukan karena asap berbau-rempah tadi, dan peninggalan batu-batu sederhana di belakang rumah yang aku bilang kemarin. Tetapi sebab sayap-sayap itu telah patah, sayang. Aku akan kembali mungkin tanpa benang yang sedari dulu nenuntunku pulang ke sana. Mencari titik temu di antara dua tabur garam dan sesiung bawang. Memoar yang mengingatkanku tentang masa kecil harum kemangi. Lukisan-lukisan daun jarak, dan bunyi ketuk pelan metronom di seberang dapur. Aku memilih ragu untuk memberimu kisah. Mungkin karena metafora sudah habis letih kupakai, sampai lemah berdarah. Simbolisme fana yang kuucap hanyalah segelintir merpati yang terbang tak tentu arah. Habislah sudah. Ingatkah kau tentang pertemuan yanng batal terjadi di gedung teater? Saat segalanya masih kaku dan kelu. Tentang waktu yang kita umpat. Tentang ruang yang sungguh bebal. Ah. Mungkin memang kita saja yang masih takut. Saat itu nyaliku pergi seperti serdadu yang kehilangan komando. Atau kau juga ...

Ruang Kelas

buku yang paling baik bukanlah berupa pendongeng, katamu melainkan pengelana yang mengajak percaya hal yang tak kamu percaya. di dalam ruang, buku itu berbicara, pelan. menggores rapuh, menunjuk jiwa, menggurui iman. kelas-kelas gelap tersembunyi yang bercahaya hanya ketika kau mengarahkan lampu ke kebun kata yang ia punya. kursi dibariskan ditepi, dan murid-murid menari gembira tanpa luka kata yang terucap hanyalah "Buku. Buku. Buku yang bercahaya." kelas dibubarkan ketika lamat-lamat mereka pergi dengan sayap, membawa buku dengan tambahan satu halaman kosong di belakang pergilah. kelas ini baru akan dimulai. kata sang penyair hampa 2016

Holiday Reading

Survivor by Chuck Palahniuk Invisible Monsters by Chuck Palahniuk His Dark Materials Trilogy by Philip Pullman Aleph by Paulo Coelho Trigger Warning by Neil Gaiman Wind, Sand, and Stars by Antoine de Saint-Exupery Mantap.