Posts

Puisi Pisau

aku telah membeli belati itu sebilah puisi berkilat kelabu bergagang kayu gaharu siapa yang akan kubunuh, puisiku? akankah mampu kucabut namamu dan kucabik baitmu? akulah sang pisau itu kuhunus pelan puisiku menuju liang lukamu 2014

Pertarungan

demi geliat naga dalam tubuhku aku akan mencari serpih berita buruk untuk mencairkan kulitku atau tinggalkan semua mata yang melihat jahitan puisi yang menghitam di kerahku denguskan api dari mulutku, jiwa resah dalam hening pagi lewati mendung ini yang 'kan menghujan besi 2014

Doa

saat langit tidur aku terbangun berjalan di samping palka angin laut bertiup pelan mengapa dalam malam tahajud beribu bintang menangis dan daundaun gugur layu memutih aku membuka sepatu aku berenang bersama bulan tenggelam kulihat kapalku tertidur nyenyak napasnya bergetar sampai badanku bergetar kutinggalkan dulu kapalku yang manis aku akan menyelam dan bertemu hantu-hantu palung biarkan bulan berenang bersamaku tangisan bintang 'kan menghujani kapalku biarkan aku sujud kepadaMu, saat mulutku terkunci air, atau saat bibirku mengeriput jangan tarik aku lagi ke permukaan laut jangan bangunkan aku dari dalam, aku akan lebih mudah mendengar bisikMu 2014

Clarity

Give me the clarity the drop of unnamed sanity From the darkest jail I see wings flutter above me beneath your body I trapped by the game I made messy now where is the elixir of vanity? I'd drink in order to be freed Of anything I need in necessity It is you which my soul bleed 2014

Ego

Image
Ego, 8" x 11" acrylic on paper by Rini Angeliantari Seperti peti dan seribu macam kunci di balik pintu yang maha tertutup. Seperti api dan besi di ujung lidah yang maha meletup. 2013

Dimana Engkau, Aspahani?

Image
Tahun-tahun perkembangan saya dalam menulis puisi tentu tak lepas dari pengaruh penyair lain. Salah satu contohnya adalah Hasan Aspahani -- penyair dari Sei Raden yang pertama saya kenal pada tahun 2011. Kalau saya jujur, saya bisa mengaku kalau beliau mempunyai pembendaharaan kata yang rapi. Rima yang beliau susun juga tak terduga -- kita seperti dibawa membaca novel yang penuh titik balik, penuh intrik dan emosi. Contohnya ada disini: Kwatrin Gawang Sebenarnya   Dia pun terbaring sendiri di lingkar tengah lapangan, Sebuah bola bulat telanjang tergolek di sampingnya. Tak ada lagi gawang sendiri dan gawang lawan, Hanya dengus nafasnya dan detak jantung bola. “Inilah saatnya menyatukan cinta, sebulat-bulatnya,” katanya kepada bola. Dibukanya sepatu dan kaus kaki. “Inilah saatnya kita memahami vonis hati: adu penalti,” katanya pada diri sendiri. Lalu erat didekapnya tubuh bola.  Telah dilepaskannya nama dan nomor di punggungnya. Baru ia sadari, “O, betapa lembu...

Aransemen

Kadang gua takjub banget sama pemusik yang bisa aransemen lagu yang dia suka. Tiap kita dengerin akan ngasih feel yang beda, suasana yang beda, arti yang berbeda. Bisa ngga sih kita aransemen memori yang kita suka? Tiap kita kenang akan ngasih  feel  yang beda, suasana yang beda, arti yang berbeda. ... 2014