Aku merancang-bangun sebuah rumah, selesai dalam satu malam. Aku pulang dalam keadaan lemah, tertatih-tatih melangkah. Karena pijak ini rubuh dalam satu suara. Menjawab tanya dari ruang terdiam, jiwa-jiwa niraksara. 2016
Halo, Far. Apakabar dirimu? Di sini musim panas akan segera berakhir. Angin mulai bergerak mengetuk jendela kamarku tiap pagi. Bagaimana dengan ruang dingin yang kau tempati, Far? Aku ingin bertanya tentang beberapa hal yang mungkin malah tak bisa kuucapkan ketika kita bertemu. Agak sulit memang, tapi memang kehendak yang di atas toh, tak bisa dipungkiri lagi. Pertemuan singkat itu memang tidak memberikan dampak apa-apa. Walaupun ratusan kemungkinan bait kata telah kurencanakan, tetapi, mau bagaimana lagi? Aku tetap diam dan mengikuti langkah seperti daun di atas aliran sungai. Bagaimana ceritamu tentang mimpi-mimpi yang dulu kausebutkan, dan ditulis dalam secarik kertas yang kausembunyikan di dalam kotak sepatu? Sudahkah kau rapikan lagi? Memang untuk menulis sebuah mimpi, apalagi pada sebuah kertas, sangatlah mudah. Apalagi membayangkannya pada pikiranmu. Mengisi kanvas kosong dengan abstraksi nalar dan khayal. Tetapi dari sana keluarlah tanggung jawab. Apa yang sudah kau tu...
Aku menutup jendela perlahan, ketika lima puluh purnama muncul di pekaranganku, malam itu. Mereka mengunjungiku saat gigil pergi, membawa percik air untuk kuminum setegak demi setegak. Karena senja pergi membawa potongan puzzle yang terhampar di dipan, hujan malam ini hanya berupa fragmen rapuh. Rapuh seperti kabut yang bergeming, menjawab tanya lewat bisik-bisik magis -- hilang saat embun mulai menetes. Dan air-air yang bergerak mendatangiku, malam ini, adalah konstruksi khayal untuk sebuah keinginan yang tak sempat aku utarakan, padamu. Pada bintang-bintang yang bersujud dalam konstelasi warna kehilangan. Suara bisu yang bersenandung perlahan. 2016
Comments
Post a Comment